Kapal induk kelas Nimitz yang berpangkalan di Yokosuka, Jepang, dan berada di bawah Armada Ketujuh AS itu diperkirakan singgah di pelabuhan Da Nang mulai Kamis hingga Senin, meski otoritas kedua negara belum mengonfirmasi tanggal pasti kedatangannya. Kunjungan ini bukan yang pertama sejak kunjungan bersejarah USS Carl Vinson pada 2018, yang menandai kehadiran militer AS terbesar di Vietnam sejak 1975, kapal induk AS telah beberapa kali singgah di kota pelabuhan tersebut, termasuk USS Ronald Reagan pada 2023. Rencana kunjungan USS Nimitz pada Juni 2025 sempat batal karena kebutuhan operasional mendesak di tengah eskalasi di Timur Tengah sehingga kedatangan George Washington kali ini punya bobot simbolis tersendiri.
Yang membuat momentum ini menarik adalah konteksnya. Baru sepekan sebelumnya, pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif baru sebesar 12,5 persen terhadap barang-barang Vietnam, bagian dari kebijakan tarif berjenjang 10–12,5 persen yang menyasar 60 mitra dagang AS berdasarkan investigasi Section 301 terkait penegakan aturan kerja paksa. Kementerian Luar Negeri Vietnam menyatakan tarif tersebut belum sepenuhnya mencerminkan upaya Hanoi dalam mencegah praktik kerja paksa dalam rantai produksinya. Di saat bersamaan, perhatian dan sumber daya militer AS turut tersedot oleh konflik yang melibatkan Iran di Timur Tengah.
Dalam situasi seperti ini, kedatangan kapal induk semestinya menjadi hal yang mudah ditunda. Namun justru sebaliknya yang terjadi. Menurut Carl Thayer, profesor emeritus ilmu politik di University of New South Wales, kedatangan George Washington menunjukkan bahwa keterlibatan AS-Vietnam tidak terganggu oleh perang di Iran maupun pengalihan aset militer AS ke Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa kerja sama pertahanan kedua negara telah terbukti bertahan di tengah tarif Trump dan persoalan lainnya.
Sinyal diplomatik ini tidak berdiri sendiri. Hanya beberapa hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu dengan Menteri Luar Negeri Vietnam Le Hoai Trung di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Filipina. pertemuan yang berlangsung hampir bersamaan dengan pemberitahuan resmi tarif baru tersebut. Kunjungan kapal induk ini juga jatuh menjelang peringatan tiga tahun peningkatan status hubungan kedua negara menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif pada September 2023, level diplomatik tertinggi yang pernah dicapai Hanoi dengan negara mana pun.
Bagi Vietnam, pesan yang ingin disampaikan tampak jelas, hubungan keamanan dan ekonomi dengan Washington adalah dua jalur yang berjalan paralel, bukan satu paket yang saling menyandera. Ketegangan tarif tidak serta-merta menghentikan kerja sama militer, dan sebaliknya, kehadiran kapal perang tidak otomatis meredakan friksi dagang. Da Nang, yang belakangan juga tengah mengembangkan proyek pelabuhan pintar, kembali menegaskan posisinya sebagai titik temu strategis antara dua bekas musuh yang kini menyebut diri mitra komprehensif.
Yang perlu terus dipantau ke depan adalah apakah pola ini (kerja sama pertahanan yang stabil di tengah gesekan ekonomi) akan bertahan seiring babak baru kebijakan tarif Trump mulai berlaku penuh, dan bagaimana Hanoi menyeimbangkan kedekatannya dengan Washington tanpa mengorbankan hubungan dagangnya yang jauh lebih besar dengan Beijing.
Analisis mendalam mengenai bagaimana Vietnam menavigasi tekanan tarif AS sembari mempertahankan hubungan keamanan dengan Washington (termasuk implikasinya bagi rantai pasok elektronik ASEAN) tersedia untuk pembaca Prime.



