Edisi Laporan Mendalam | PrimeIndex: Energi & Fiskal ASEAN
Data diperbarui: Juni 2026 | Bacaan: ±28 menit
Tiga Puluh Empat Kilometer yang Mengguncang Dunia
Ada ironi yang keras dalam geografi. Selat Hormuz, jalur laut yang memisahkan Iran di utara dan Oman di selatan, dengan lebar hanya 34 kilometer pada titik tersempitnya telah menjadi satu-satunya pembuluh nadi yang menghubungkan jantung energi dunia dengan seluruh organ peradaban modern yang haus bahan bakar. Tiga puluh empat kilometer. Sebuah jarak yang bisa ditempuh pelari maraton kelas dunia dalam kurang dari dua jam, namun cukup untuk membekukan rantai pasokan energi global ketika ia disengketakan.
Pada 28 Februari 2026, operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu serangkaian eskalasi yang berujung pada yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern, penutupan efektif Selat Hormuz, dengan lalu lintas maritim yang jatuh ke bawah sepuluh persen dari level sebelum perang pada 4 Maret, mendorong harga minyak ke angka 95 dolar AS per barel dan melonjakkan harga LNG di pasar Asia secara tajam.
Ini bukan krisis energi biasa. Penutupan Selat Hormuz dalam konteks perang dengan Iran telah menghasilkan guncangan energi paling parah dalam sejarah modern. Pasar dunia kehilangan volume besar minyak, petrokimia, aluminium, LNG, pupuk, dan material-material kunci lainnya. Di seluruh Asia, yang bergantung pada Timur Tengah...
Konten APEX Eksklusif
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan APEX. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


