Ini bukan euforia AI generik seperti dua tahun lalu, ketika setiap dek pitching menyelipkan kata "generative" agar terlihat relevan. Yang sedang terjadi sekarang lebih tajam, investor mulai membedakan start-up yang benar-benar punya pelanggan korporat membayar, dari yang masih berkutat di tahap demo. Berikut empat nama yang, masing-masing dengan cara berbeda, menunjukkan bahwa AI buatan Asia Tenggara mulai dipakai sungguhan oleh bisnis sungguhan, bukan hanya sekadar dipresentasikan di atas panggung.
Amity (Thailand)
Amity, perusahaan software dan AI asal Bangkok, mengumumkan pendanaan Seri D senilai 100 juta dolar AS pada akhir Maret. putaran pendanaan bertema AI generatif terbesar yang pernah tercatat di Asia Tenggara. Putaran ini dipimpin oleh EDBI, lengan investasi dari SG Growth Capital, bersama Asia Partners dan SMDV, dengan partisipasi investor lain termasuk CMLIM Capital.
Yang membuat angka ini menarik bukan sekadar besarnya, melainkan apa yang ada di baliknya. Pendiri dan Executive Chairman Amity, Korawad Chearavanont, mengungkapkan bahwa pendapatan tahunan perusahaan menembus 100 juta dolar AS untuk pertama kalinya pada 2025 tumbuh lebih dari sepuluh kali lipat sejak 2022. Dengan suntikan dana ini, total pendanaan Amity kini mencapai 160 juta dolar AS.
Platform-platform Amity kini melayani lebih dari 10 juta pengguna aktif bulanan di lebih dari 20.000 organisasi, tersebar di lebih dari 20 negara. Strategi perusahaan dikenal dengan sebutan "3B" (Build, Buy, Bridge) kombinasi riset internal, akuisisi strategis, dan ekspansi pasar, dengan fokus pada model AI vertikal untuk industri ritel dan telekomunikasi.
Yang paling mencerminkan ambisi Amity bukan angka pendanaannya, melainkan posisi geopolitik yang sengaja dipilih perusahaan. CEO grup Amity, Keng Teik Koay, menempatkan perusahaannya sebagai alternatif di luar dominasi AS dan Tiongkok dalam pengembangan model AI kelas dunia. sebuah "kubu ketiga" yang dibangun khusus untuk kebutuhan perusahaan Asia. Untuk mewujudkan visi itu, Amity mendirikan pusat riset AI baru di Singapura dan menargetkan pendapatan tahunan 200 juta dolar AS pada akhir 2026, sembari bersiap melantai di bursa pada 2027.
Pints AI (Singapura), AI yang Bisa Diaudit
Untuk Industri yang Diatur Ketat. Bukan setiap start-up AI butuh viralitas untuk tumbuh. Pints AI, perusahaan asal Singapura yang membantu lembaga keuangan menerapkan AI untuk fungsi bisnis kritis, baru saja mengumpulkan dana segar 5,6 juta dolar AS dalam putaran pra-Seri A yang dipimpin Tin Men Capital, dengan SBI Ven Capital sebagai co-lead bersama sejumlah investor lain.
Persoalan yang dipecahkan Pints AI sangat spesifik, bagaimana bank dan perusahaan asuransi bisa memakai AI tanpa kehilangan jejak akuntabilitas yang dituntut regulator. Pendekatan Pints AI menggunakan kerangka orkestrasi agen yang mencocokkan setiap tugas dengan model AI paling sesuai (mulai dari model bahasa kecil buatan sendiri hingga model frontier seperti Claude dan model open-source) sehingga menghasilkan akurasi setara enterprise dengan biaya jauh lebih rendah. Perusahaan bahkan menempatkan engineer langsung di organisasi klien untuk mengintegrasikan sistemnya dengan infrastruktur perbankan dan asuransi yang sudah ada.
Hasilnya bukan sekadar konsep. Sistem Autothought milik Pints AI dirancang memenuhi syarat kepatuhan dan audit dari regulator termasuk Otoritas Moneter Singapura, Reserve Bank of India, dan Otoritas Moneter Hong Kong. setiap keputusan yang dibantu AI dapat ditelusuri ke data sumbernya, sementara hasil yang meragukan ditandai untuk ditinjau manusia.
Murli Ravi, co-founder dan managing partner Tin Men Capital, menggambarkan posisi Pints AI dengan tajam, ketika dunia masih memperdebatkan nilai bisnis AI, perusahaan ini sudah diam-diam menerapkan AI yang bisa diaudit di lembaga keuangan dan menghasilkan penghematan jutaan dolar bagi kliennya, jenis nilai yang menurutnya akan mendefinisikan fase berikutnya adopsi AI secara global. Klien Pints AI kini tersebar di India, Singapura, Hong Kong, dan Thailand.
Sourcy (Singapura), Agen AI di Balik Rantai Pasok
Di sektor yang lebih jarang disorot media (sourcing produk untuk merek dan retailer) start-up bernama Sourcy diam-diam membangun traksi yang signifikan. Platform ini menggunakan AI agentik untuk membantu merek menemukan dan mengadakan produk secara lebih cerdas, cepat, dan murah.
Platform Sourcy kini mendukung lebih dari 390 pelanggan di 30 negara, merepresentasikan nilai sourcing total lebih dari 33 juta dolar AS, dan telah mengumpulkan pendanaan ventura sebesar 6,3 juta dolar AS. Pendirinya, Karl Chan, punya latar belakang yang relevan dengan masalah yang ia coba pecahkan. sebelum mendirikan Sourcy, Chan adalah profesional investasi di International Finance Corporation, fokus pada investasi modal ventura dan ekuitas pertumbuhan di Asia Tenggara, dengan pengalaman lintas sektor fintech, cleantech, dan agtech.
Bagi industri rantai pasok ASEAN, yang selama ini bergantung pada jaringan personal, perantara berlapis, dan proses sourcing manual yang lambat, pendekatan agentik Sourcy berpotensi memangkas friksi yang selama puluhan tahun dianggap tidak terhindarkan.
Good Bards (Singapura), "Departemen Pemasaran Otonom" yang Melangkah ke Jepang
Kategori paling ramai diperebutkan dalam AI agentik barangkali adalah pemasaran dan Good Bards berhasil mencuri perhatian dengan klaim yang berani: membangun departemen pemasaran yang sepenuhnya otonom, menawarkan layanan setara Chief Marketing Officer melalui AI.
Good Bards dinobatkan sebagai salah satu Top 10 start-up Echelon 2025 melalui program e27 TOP100, dan turut bergabung dalam Google for Startups Accelerator, AI First di Singapura. Yang membedakan Good Bards bukan cuma pengakuan institusional, melainkan kombinasinya dengan infrastruktur AI praktis yang bisa diskalakan memungkinkan perusahaan menengah merancang dan meluncurkan kampanye multisaluran dan multibahasa tanpa harus mengelola banyak alat dan tim sekaligus.
Langkah terbaru perusahaan menunjukkan ambisi yang melampaui Asia Tenggara, Good Bards merambah pasar pemasaran digital Jepang senilai 5,4 miliar dolar AS melalui kemitraan strategis dengan Genero Inc., menghadirkan eksekusi kampanye berbasis AI otonom untuk perusahaan-perusahaan Jepang. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan AI Singapore untuk mengintegrasikan model bahasa SEA-LION, yang dilatih khusus memahami nuansa bahasa-bahasa Asia Tenggara seperti Thai, Vietnam, dan Bahasa Indonesia ke dalam Marketing OS-nya, sebuah langkah yang memperkuat kemampuan lokalisasi produk di tengah pasar yang sangat beragam secara linguistik.
Artinya untuk Industri ASEAN
Empat profil ini, jika dilihat bersamaan, menunjukkan satu kecenderungan yang sama, AI Asia Tenggara yang bertahan di tengah pengetatan modal adalah AI yang paling dalam tertanam dalam alur kerja korporat yang sudah ada. perbankan yang diatur ketat, rantai pasok ritel, hingga departemen pemasaran perusahaan menengah. Investor di kawasan ini, seperti tercermin dalam data kuartal pertama 2026, kini menghargai start-up yang dapat menunjukkan pendapatan berulang dan klien korporat nyata, ketimbang janji disrupsi yang masih berupa visi.
Bagi pelaku industri yang memantau lanskap ini, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi "start-up AI mana yang akan menjadi unicorn berikutnya", melainkan "infrastruktur AI mana yang akan menjadi standar diam-diam bagi cara bisnis ASEAN beroperasi dalam lima tahun ke depan."



