Pertanyaannya bukan lagi apakah Asia Tenggara akan memihak Washington, Beijing, atau Moskow. Pertanyaan yang lebih jujur, dan lebih sulit dijawab, adalah berapa lama lagi mereka bisa menghindar dari pertanyaan itu dan apa yang terjadi pada hari ketika jawabannya tidak lagi opsional?
Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi ?
Untuk memahami posisi kawasan hari ini, kita perlu melepaskan kerangka lama "Asia memilih sisi" dan menggantinya dengan kerangka yang lebih akurat secara akademis maupun praktis. bukan sebagai sikap pasif menunggu, melainkan sebagai strategi aktif yang menuntut kelincahan diplomatik luar biasa. Para sarjana hubungan internasional menyebutnya sebagai upaya memaksimalkan keuntungan sambil tetap mempersiapkan diri terhadap risiko kontinjensidua. tujuan yang secara teoretis saling bertentangan, namun dijalankan ASEAN secara simultan selama lebih dari dua dekadedengan tujuan mencapai "memaksimalkan keuntungan" dan sepenuhnya mempersiapkan "kontinjensi risiko" sebagai dua sasaran kebijakan.
Logikanya sederhana namun rapuh. Di satu sisi, negara-negara ASEAN ingin memperdalam hubungan dagang dengan China untuk menumbuhkan ekonomi nasional mereka. Di sisi lain, untuk meredam risiko konflik dan ketergantungan berlebihan pada Beijing, mereka tetap menjaga kerja sama keamanan dengan Amerika sebagai polis asuransi terutama bila sengketa di Laut China Selatan benar-benar memanas jika konflik muncul antara ASEAN dan China di Laut...
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


