Memuat Data Pasar...
Dunia & GeopolitikPrime30 Juni 2026 9 mnt baca

Mengurai Pilihan Asia Tenggara Antara Amerika, China, dan Rusia

Ada satu kalimat yang nyaris menjadi mantra di setiap forum kebijakan luar negeri ASEAN sejak satu dekade terakhir, kami tidak ingin memilih. Diplomat Singapura mengucapkannya dengan presisi hukum. Menteri luar negeri Indonesia mengucapkannya dengan nada non-blok yang diwarisi dari era Soekarno. Pejabat Vietnam mengucapkannya sambil tersenyum tipis, karena mereka tahu lebih baik dari siapa pun bahwa "tidak memilih" itu sendiri adalah sebuah pilihan

Arsyanendra
Mengurai Pilihan Asia Tenggara Antara Amerika, China, dan Rusia

Photo by Paresh Patil

Pertanyaannya bukan lagi apakah Asia Tenggara akan memihak Washington, Beijing, atau Moskow. Pertanyaan yang lebih jujur, dan lebih sulit dijawab, adalah berapa lama lagi mereka bisa menghindar dari pertanyaan itu dan apa yang terjadi pada hari ketika jawabannya tidak lagi opsional?

Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi ?

Untuk memahami posisi kawasan hari ini, kita perlu melepaskan kerangka lama "Asia memilih sisi" dan menggantinya dengan kerangka yang lebih akurat secara akademis maupun praktis. bukan sebagai sikap pasif menunggu, melainkan sebagai strategi aktif yang menuntut kelincahan diplomatik luar biasa. Para sarjana hubungan internasional menyebutnya sebagai upaya memaksimalkan keuntungan sambil tetap mempersiapkan diri terhadap risiko kontinjensidua. tujuan yang secara teoretis saling bertentangan, namun dijalankan ASEAN secara simultan selama lebih dari dua dekadedengan tujuan mencapai "memaksimalkan keuntungan" dan sepenuhnya mempersiapkan "kontinjensi risiko" sebagai dua sasaran kebijakan.

Logikanya sederhana namun rapuh. Di satu sisi, negara-negara ASEAN ingin memperdalam hubungan dagang dengan China untuk menumbuhkan ekonomi nasional mereka. Di sisi lain, untuk meredam risiko konflik dan ketergantungan berlebihan pada Beijing, mereka tetap menjaga kerja sama keamanan dengan Amerika sebagai polis asuransi terutama bila sengketa di Laut China Selatan benar-benar memanas jika konflik muncul antara ASEAN dan China di Laut...

Konten Premium

Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.

Langganan Sekarang
art.share.title

Ruang Diskusi

0 Komentar

Bacaan terkait

Dari kategori Dunia & Geopolitik
Narasi Ketegangan Taiwan China dan Skenario Masa Depan
Dunia & Geopolitik

Narasi Ketegangan Taiwan China dan Skenario Masa Depan

Antara Jam Berdetak dan Jendela Kesempatan yang Menyempit, Dunia menyaksikan paradoks yang membingungkan di Selat Taiwan. Di satu sisi, Beijing melancarkan latihan militer terbesarnya pada Desember 2025, operasi "Justice Mission 2025" yang mensimulasikan blokade pelabuhan utama Taiwan dengan tingkat kecanggihan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, sebagian besar analis masih berhati-hati untuk tidak memprediksi invasi yang sudah di ambang pintu

kristyan7 mnt baca
"Blockade Diplomacy" Ketika Laut Menjadi Senjata Baru Kekuasaan
Dunia & Geopolitik

"Blockade Diplomacy" Ketika Laut Menjadi Senjata Baru Kekuasaan

Di tengah perang AS-Iran yang bergolak sejak Februari 2026, Selat Hormuz berubah dari koridor energi dunia menjadi papan catur geopolitik paling berbahaya abad ini. Inilah anatomi dari sebuah doktrin baru: diplomasi melalui blokade.

Rama Wijaya5 mnt baca