Pada 11 Juni lalu, di sebuah ruang pertemuan di Shanghai, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Gubernur People's Bank of China Pan Gongsheng menandatangani serangkaian dokumen yang, di atas kertas, terdengar teknokratis. kerangka kerja sama mata uang lokal, pengaturan kliring renminbi, partisipasi langsung dalam sistem pembayaran lintas batas Tiongkok. Tidak ada konferensi pers besar, tidak ada pernyataan dramatis tentang dolar yang sekarat. Namun di balik bahasa birokratis itu tersembunyi sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah Asia Tenggara, dan Indonesia khususnya, sedang membangun jalur keluar dari ketergantungan dolar atau sekadar menambah jalur cadangan di samping jalur yang sudah ada?
Jawabannya, seperti kebanyakan hal dalam geoekonomi, tidak sesederhana narasi yang beredar di media sosial maupun di forum BRICS. Yang terjadi di Shanghai bulan ini adalah satu titik dalam jaringan yang jauh lebih luas dan lebih lama dibangun. jaringan yang melibatkan bukan hanya yuan dan rupiah, tetapi juga baht, ringgit, peso, dan dong, serta sebuah proyek bernama Nexus yang mungkin akan mengubah arsitektur pembayaran kawasan secara permanen sebelum dekade ini berakhir.
Babak Baru di Shanghai, Akar yang Jauh Lebih Tua
Kerja sama mata uang lokal Indonesia-Tiongkok bukan hal baru. Skemanya dimulai sebagai Local Currency Settlement pada 2020, dengan kuotasi nilai tukar langsung antara rupiah dan yuan serta sejumlah bank yang ditunju...
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


