Memuat Data Pasar...
Dunia & Geopolitik27 Juli 2026 3 mnt baca

Insiden Second Thomas Shoal dan Reaksi diplomatik dari Washington serta Canberra

Ketika Laut China Selatan Kembali Menguji Kesabaran Kawasan,

Rama Wijaya
Insiden Second Thomas Shoal dan Reaksi diplomatik dari Washington serta Canberra

Photo by Globaltimes

Pada Senin pagi, 20 Juli 2026, sekitar pukul sembilan waktu setempat, ketegangan lama di perairan sengketa Laut China Selatan kembali pecah menjadi insiden fisik. Sebuah kapal kecil China Coast Guard (CCG) berpapasan dengan dua perahu karet Angkatan Laut Filipina di dekat Second Thomas Shoal, yang oleh Manila disebut Ayungin Shoal dan oleh Beijing disebut Ren'ai Jiao. Hasilnya: seorang prajurit marinir Filipina mengalami cedera kepala setelah dipukul menggunakan tongkat kayu, dalam insiden yang oleh Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) digambarkan sebagai serangan tak berdasar dari personel CCG.

Dua Versi, Satu Titik Panas

Seperti pola yang berulang di kawasan ini, kedua pihak langsung saling melempar tuduhan. China Coast Guard, melalui pernyataan resminya, mengklaim bahwa dua perahu karet Filipina "secara ilegal" diluncurkan dari BRP Sierra Madre, kapal perang tua yang sengaja dikandaskan Manila di shoal tersebut sejak 27 tahun lalu sebagai pos terdepan klaim kedaulatannya. Menurut Beijing, perahu-perahu itu mengabaikan peringatan berulang, mendekat secara berbahaya, dan menabrak kapal patroli China dari depan, bahkan menggunakan dayung dan tongkat panjang untuk menyerang petugas penegak hukum China.

Manila punya cerita berbeda. Menurut laporan yang dikutip beberapa media, insiden itu terjadi antara sebuah kapal kecil penjaga pantai China dan dua perahu karet Filipina, di mana personel China memukul pelaut Filipina dengan tongkat kayu, yang kemudian mencoba membalas dengan dayung. BRP Sierra Madre (kapal karam yang menjadi simbol kehadiran Filipina di shoal itu) sekali lagi menjadi latar dari konfrontasi yang direkam dan disebarluaskan kedua belah pihak sebagai bukti masing-masing versi.

Ini bukan insiden pertama di titik ini. Sejak laser incident 2023, standoff Agustus 2023, hingga bentrokan Juni 2024 yang menyebabkan delapan personel Filipina cedera, Second Thomas Shoal telah menjadi barometer (kestabilan atau ketidakstabilan) hubungan Manila-Beijing di Laut China Selatan.

Washington dan Canberra Bereaksi Cepat

Yang membuat insiden kali ini terasa berbeda adalah waktunya: terjadi tepat menjelang pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Manila, memaksa isu ini naik ke meja diplomasi regional dalam hitungan jam.

Amerika Serikat merespons dengan nada tegas. Juru bicara Departemen Luar Negeri, Tommy Pigott, menyatakan Washington mengecam tindakan berbahaya dan agresif China terhadap personel angkatan laut Filipina di Second Thomas Shoal pada 20 Juli 2026, dan menyerukan China untuk segera menghentikan perilaku destabilisasinya. Pigott juga menegaskan kembali putusan Mahkamah Arbitrase Juli 2016, yang menyatakan klaim maritim ekspansif China di Laut China Selatan tidak memiliki dasar hukum internasional, sebuah putusan yang menurut AS bersifat final dan mengikat kedua negara.

Australia tidak tinggal diam. Menteri Luar Negeri Penny Wong, yang tengah berada di Manila, langsung angkat bicara di markas Penjaga Pantai Filipina. Wong mengkritik "perilaku destabilisasi dan berbahaya" Beijing di Laut China Selatan dan secara spesifik mengecam tindakan kapal-kapal China terhadap kapal-kapal Filipina yang terjadi Senin pagi.

Kedutaan Besar China di Manila membalas kecaman Washington dengan menyebutnya "tidak berdasar", sebuah pola respons yang sudah familiar dalam siklus tuduhan-bantahan di kawasan ini.

Bagaimana ASEAN Merespons?

Yang menarik justru adalah keheningan. Ketika isu ini diangkat oleh Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN, menteri-menteri luar negeri Asia Tenggara lainnya tidak memberikan reaksi, sebuah sikap yang menegaskan dilema lama ASEAN dalam menangani sengketa yang melibatkan kepentingan China.

Insiden ini kembali menegaskan satu kenyataan, tanpa aturan main yang jelas dan mengikat di lapangan, setiap patroli rutin di Ayungin Shoal berpotensi menjadi pemicu krisis baru dan kali ini, krisis tersebut kebetulan bertepatan dengan panggung diplomasi regional yang seharusnya menampilkan soliditas ASEAN.

art.share.title

Ruang Diskusi

0 Komentar

Bacaan terkait

Dari kategori Dunia & Geopolitik
Narasi Ketegangan Taiwan China dan Skenario Masa Depan
Dunia & Geopolitik

Narasi Ketegangan Taiwan China dan Skenario Masa Depan

Antara Jam Berdetak dan Jendela Kesempatan yang Menyempit, Dunia menyaksikan paradoks yang membingungkan di Selat Taiwan. Di satu sisi, Beijing melancarkan latihan militer terbesarnya pada Desember 2025, operasi "Justice Mission 2025" yang mensimulasikan blokade pelabuhan utama Taiwan dengan tingkat kecanggihan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, sebagian besar analis masih berhati-hati untuk tidak memprediksi invasi yang sudah di ambang pintu

kristyan7 mnt baca
"Blockade Diplomacy" Ketika Laut Menjadi Senjata Baru Kekuasaan
Dunia & Geopolitik

"Blockade Diplomacy" Ketika Laut Menjadi Senjata Baru Kekuasaan

Di tengah perang AS-Iran yang bergolak sejak Februari 2026, Selat Hormuz berubah dari koridor energi dunia menjadi papan catur geopolitik paling berbahaya abad ini. Inilah anatomi dari sebuah doktrin baru: diplomasi melalui blokade.

Rama Wijaya5 mnt baca