ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) memastikan fenomena El Niño kini benar-benar berlangsung dan diperkirakan terus menguat dalam beberapa bulan mendatang. Dalam prakiraan musiman terbarunya yang dirilis awal Agustus, lembaga berbasis di Singapura ini memperingatkan periode Agustus–Oktober akan membawa curah hujan di bawah normal untuk sebagian besar kawasan ASEAN selatan, disertai suhu di atas rata-rata di hampir seluruh wilayah. Kombinasi ini membuka jalan bagi eskalasi titik api dan asap lintas batas yang sudah lama menjadi momok musiman kawasan.
Ini bukan sekadar prakiraan rutin. Singapore Institute of International Affairs (SIIA) menaikkan status Haze Outlook 2026 mereka ke level merah, level tertinggi dalam skala hijau-kuning-merah yang mereka gunakan sejak 2019. Status merah sebelumnya hanya pernah terjadi sekali, yaitu pada 2023. SIIA menyebut Agustus dan September sebagai periode puncak bahaya, ketika El Niño bertemu dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD)dua, pendorong cuaca yang saling memperkuat efek kering dan panasnya masing-masing.
Pola yang Berulang, Bukan Kebetulan
Sejarah mencatat pola yang cukup konsisten. krisis haze besar terjadi pada 1997–1998, 2015, 2019, dan 2023. semuanya bertepatan dengan tahun El Niño kuat atau IOD positif. Otoritas Malaysia bahkan telah memperingatkan kemungkinan kondisi yang menyerupai krisis 1997–1998, episode terparah yang pernah tercatat, yang saat itu memicu kekurangan air akut dan asap tebal di seantero kawasan.
Biaya ekonominya bukan angka kecil. SIIA mencatat krisis haze 1997–1998 menimbulkan kerugian sekitar US$9,3 miliar di seluruh Asia Tenggara, sementara episode 2015 saja menyebabkan kerugian sekitar US$16,1 miliar di Indonesia. Dengan kata lain, haze bukan hanya persoalan kualitas udara. ia adalah gangguan ekonomi berskala regional yang menyentuh penerbangan, pariwisata, kesehatan publik, hingga produktivitas kerja.
Dampaknya juga sudah merambat ke sektor pangan. Petani padi di kawasan tengah menghadapi musim kering yang bertumpuk dengan harga bahan bakar dan pupuk yang sudah tinggi. di Thailand, harga beras belakangan menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan. Periode panas ekstrem yang berkepanjangan berisiko menekan hasil panen lebih jauh, yang pada akhirnya bisa mendorong harga pangan naik di seluruh kawasan.
Respons Institusional Masih Timpang
Di sisi kebijakan, ASEAN memiliki peta jalan 2023–2030 di bawah Agreement on Transboundary Haze Pollution yang menargetkan kawasan bebas asap pada 2030, dibangun di atas restorasi lahan gambut, pertanian tanpa bakar, dan berbagi data secara real-time. Namun kesepakatan ini tidak memiliki sanksi mengikat bagi negara yang tidak patuh, celah yang kerap disorot para pengamat kebijakan lingkungan kawasan.
Indonesia sendiri telah memperkuat responsnya melalui pembentukan Forest and Land Fire Coordination Desk lintas lembaga, sementara badan restorasi gambut menargetkan pemulihan 1,2 juta hektare lahan terdegradasi pada 2026. target yang menurut catatan mereka sendiri masih tertinggal akibat keterbatasan pendanaan dan konsesi yang terus berjalan di area rawan kebakaran.
Bagi Indonesia, Malaysia, dan Singapura, tiga bulan ke depan akan menjadi ujian nyata, apakah mekanisme kerja sama yang dibangun sejak krisis-krisis sebelumnya benar-benar mampu memutus siklus yang telah berulang lima kali dalam tiga dekade terakhir.



