Pada Oktober 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah pesan di media sosial yang singkat namun penuh kalkulasi, "The G2 will be convening shortly." Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ia adalah sinyal strategis sebuah upaya menghidupkan kembali konsep tatanan dunia bipolar yang pernah populer sesaat pada krisis finansial 2008, di mana Washington dan Beijing akan berfungsi sebagai dua poros penentu nasib planet ini.
Bagi Asia Tenggara, sinyal itu adalah alarm.
Ketika G2 Menjadi Bukan Solusi, Melainkan Masalah
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


