Di Manila, pertengahan akhir Juli, sebuah ruang pertemuan menampung sesuatu yang semakin sulit ditemukan di tempat lain di dunia, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan India duduk dalam rangkaian forum yang sama, dalam pekan yang sama, di bawah tuan rumah yang sama. Selama tiga hari, Manila menjadi tuan rumah bagi Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN, ASEAN Regional Forum, East Asia Summit, ASEAN Plus Three, dan ASEAN Defense Ministers' Meeting-Plus. menampilkan ASEAN sebagai pusat saraf diplomatik kawasan, dengan kehadiran Marco Rubio, Wang Yi, Sergei Lavrov, dan S. Jaishankar.
Yang membuat pemandangan ini janggal bukan siapa yang hadir, melainkan kapan ini terjadi. Hanya sehari sebelum pertemuan dimulai, personel Penjaga Pantai Tiongkok dan awak angkatan laut Filipina terlibat konfrontasi fisik di Second Thomas Shoalins. iden yang oleh Filipina disebut sebagai serangan menggunakan tongkat kayu terhadap kapal BRP Sierra Madre, kapal karam yang selama dua dekade menjadi pos militer terdepan Manila di perairan sengketa. Departemen Luar Negeri AS segera mengecam tindakan itu sebagai berbahaya dan mengganggu stabilitas kawasan. Ini bukan latar belakang yang tenang untuk sebuah forum yang katanya merayakan dialog.
Namun justru di titik gesekan itulah pertanyaan yang lebih besar layak diajukan. mengapa, di tengah dunia yang kian terbelah oleh logika blok dan konfrontasi, ASEAN memilih untuk menegaskan kembali (bukan melunakkan) bahasa sentralitas,...
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


