Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara terbuka di ruang-ruang kebijakan Jakarta, Kuala Lumpur, atau Hanoi. jika esok pagi rantai pasok semikonduktor global tiba-tiba terputus, siapa yang akan ditelepon lebih dulu oleh Washington, Beijing, atau Brussels? Jawabannya, sejauh ini, hampir tidak pernah menyebut satu pun ibu kota ASEAN. Ia akan menyebut Hsinchu, Icheon, Kumamoto, atau (belakangan ini) Bac Ninh.
Itu bukan kebetulan geografis. Itu adalah hasil dari tiga dekade keputusan industri yang disengaja, sebagian menyakitkan, dan hampir selalu tidak populer secara politik jangka pendek. Sementara sebagian besar Asia Tenggara sibuk merayakan pertumbuhan ekonomi digital berbasis aplikasi (ride-hailing, e-commerce, layanan keuangan digital). Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan belakangan Vietnam sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih sunyi namun jauh lebih menentukan, yaitu menjadikan diri mereka mustahil untuk dilewati dalam arsitektur kecerdasan buatan global.
Perbedaan ini bukan soal siapa yang "lebih maju" secara teknologi dalam pengertian awam. Ini soal siapa yang memegang simpul (chokepoint) yang tidak bisa digantikan dalam waktu singkat oleh pesaing mana pun dan siapa yang sebaliknya, hanya menyediakan kapasitas yang bisa dipindahkan begitu insentif berubah.
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


