Setahun lalu, pada malam 28 Agustus 2025, seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan tewas tergilas kendaraan taktis kepolisian di tengah kerusuhan yang meletus dari demonstrasi menolak besaran tunjangan anggota DPR, sebuah tragedi yang mengubah unjuk rasa lokal menjadi krisis kepercayaan nasional. Kejadian ini langsung memicu gelombang protes yang lebih luas, terutama dari sesama pengemudi ojek daring dan kalangan mahasiswa, setelah aksi bermula dari tuntutan terkait tunjangan DPR dan kenaikan pajak bumi dan bangunan di sejumlah daerah. Tepat setahun kemudian, indikator makroekonomi Indonesia tampak jauh lebih tenang. Tapi pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi apakah pasar sudah pulih, melainkan apakah investor dunia benar-benar sudah lupa.
Saat kerusuhan itu terjadi, dampaknya terasa cepat dan nyata. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mencatat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan sempat melemah akibat guncangan kepercayaan pasar, sementara Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, menilai kerusuhan semacam ini berdampak langsung pada citra penegakan hukum, variabel yang berkaitan erat dengan iklim investasi. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings bahkan turun tangan dengan peringatan resmi. kerusuhan berkepanjangan berisiko melemahkan sentimen bisnis dan konsumen sehingga dapat menghambat investasi asing langsung, justru ketika Indonesia sedang berupaya menangkap peluang dari pergeseran rantai pasok global. Fitch juga menegaskan bahwa akar ketidakpuasan publik terkait biaya hidup dan kondisi ekonomi belum sepenuhnya terselesaikan. sebuah catatan yang, satu tahun kemudian, layak ditinjau ulang. Investor Kabur Gegara Aksi Rusuh, Siap-siap Dampaknya
Secara nominal, kekhawatiran itu belum terbukti sepenuhnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2026 tercatat 5,3 persen, melampaui ekspektasi pasar, menurut laporan Reuters awal Agustus lalu. Purchasing Managers' Index manufaktur melompat ke 50,2 pada Juli 2026, naik dari 46,9 di bulan sebelumnya, menandai kembalinya sektor manufaktur ke zona ekspansi. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 19 Agustus 2026, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah dan inflasi dalam sasaran. Cadangan devisa berada di posisi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, setara pembiayaan 5,5 bulan impor, sementara arus modal portofolio asing mencatat net inflow 8,5 miliar dolar AS pada triwulan kedua.
Namun di balik angka-angka yang menenangkan itu, ada pergeseran yang lebih sunyi namun lebih struktural. Realisasi investasi asing langsung ke Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai Rp507,7 triliun, capaian yang solid dan sesuai target pemerintah. Tetapi di periode yang sama, total investasi asing yang masuk ke Vietnam melonjak menjadi 34,65 miliar dolar AS, naik tajam dari 21,52 miliar dolar AS setahun sebelumnya, dan terus berakselerasi hingga menembus 38,06 miliar dolar AS pada akhir Juli. meningkat 58 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Faisal, yang tahun lalu mencatat guncangan IHSG akibat kerusuhan, kini memberi penjelasan yang menyambungkan kedua momen itu. keunggulan Vietnam bukan soal luas wilayah atau kekayaan sumber daya (Indonesia unggul di kedua hal itu), melainkan konsistensi kebijakan yang lahir dari sistem pemerintahan yang lebih sentralistik dan karena itu lebih mudah diprediksi.
Investasi Asing Indonesia Tembus Rp 508 Triliun, tapi Kenapa Vietnam Tetap Unggul?
Perbedaan ini penting karena investasi portofolio dan investasi langsung bergerak menurut logika yang berbeda. Dana portofolio bisa kembali dalam hitungan minggu begitu suku bunga dan nilai tukar stabil, persis yang terjadi sepanjang 2026. Tapi investasi langsung untuk pabrik, kawasan industri, dan rantai pasok jangka panjang dihitung dalam skala dekade, dan keputusannya jarang dibalik. Perusahaan multinasional yang tengah merestrukturisasi rantai pasok global saat ini secara eksplisit memprioritaskan negara dengan lingkungan politik yang stabil dan sumber daya manusia berkualitas tinggi.sebuah kalkulasi yang sama juga merembes ke sektor pariwisata dan logistik, di mana persepsi risiko sebuah negara memengaruhi keputusan wisatawan mancanegara dan pengelola jalur distribusi jauh sebelum data resmi sempat membantahnya. Vietnam
Dengan kata lain, kerusuhan seperti yang terjadi Agustus 2025 tidak perlu berulang untuk memberi dampak jangka panjang. Cukup diingat sebagai risiko yang mungkin terjadi lagi, dan kalkulator investor jangka panjang sudah bergeser pelan, tapi permanen.
Sebuah kajian dari Universitas YARSI berargumen bahwa tanpa perbaikan tata kelola politik dan pemberantasan korupsi yang serius, efektivitas kebijakan ekonomi apa pun akan tetap terbatas, karena kepercayaan publik dan pasar merupakan prasyarat, bukan hasil sampingan dari pertumbuhan. Bagi Indonesia, tantangannya kini bukan lagi memadamkan krisis, itu sudah selesai setahun lalu. Tantangannya adalah membuktikan, melalui konsistensi kebijakan dari satu triwulan ke triwulan berikutnya, bahwa Agustus 2025 adalah pengecualian dalam catatan sejarah ekonomi Indonesia, bukan sebuah pola yang akan terus berulang.



