Dari "Numpang Lewat" Menjadi Pemain Langsung
Selama bertahun-tahun, durian Indonesia masuk ke pasar raksasa China lewat jalan memutar. Buah dipanen di Sulawesi atau Sumatera, dikirim ke Thailand atau Vietnam, diolah ulang dan dikemas di sana, baru kemudian "lahir kembali" sebagai produk ekspor negara tetangga menuju China. Biaya ekspedisi untuk rute memutar ini mencapai sekitar US$18.000 per kontainer.
Pada 25 Mei 2025, jalan pintas itu akhirnya terbuka. Indonesia dan China menandatangani Protokol Ekspor Durian Beku, dan pada Desember 2025 Indonesia mengirim kiriman perdana durian beku langsung ke Tiongkok. Dampaknya langsung terasa di neraca pelaku usaha, biaya ekspedisi turun menjadi sekitar US$10.000-11.000 per kontainer setelah ekspor langsung dibuka. efisiensi sekitar US$8.000 per kontainer yang sebelumnya hilang ke negara perantara.
Skalanya memang masih kecil dibanding dua raksasa durian ASEAN. Thailand dan Vietnam selama ini menjadi pemain utama perdagangan durian Asia, sementara Indonesia baru mulai masuk dengan skala yang jauh lebih kecil dibanding nilai pasar China yang mencapai Rp128 triliun per tahun. Tapi arah pertumbuhannya jelas. Hingga pertengahan April 2026, sudah 151 kontainer durian Indonesia diberangkatkan ke Tiongkok dengan nilai ekonomi Rp377,5 miliar. Dan insentif harganya menggiurkan, harga durian di China bisa mencapai lima hingga tujuh kali lipat dibanding harga domestik, membuka ruang margin yang signifikan bagi petani dan eksportir yang bisa memenuhi standar mutu China.
Sementara itu, dua pemain lama mulai merasakan tekanan dari arah berbeda. Thailand pada 2025 melaporkan volume ekspor durian sekitar 982.000 ton (naik dari tahun sebelumnya) namun nilai ekspornya justru turun menjadi sekitar 125,9 miliar baht, akibat tekanan harga dan standar mutu yang makin ketat dari China. Beberapa kontainer bahkan sempat ditolak di pelabuhan tujuan karena masalah dokumen dan residu kimia. China sendiri sedang mempercepat infrastrukturnya, jalur kereta ekspres baru bisa mengangkut lebih dari 200.000 ton durian dari Thailand ke China sepanjang 2026, memangkas waktu tempuh ke Chengdu dari sekitar satu minggu menjadi lima hari dan ironisnya, pasokan yang lebih lancar ini menekan harga durian impor turun hingga 30 persen.
Vietnam justru bergerak ke arah berlawanan dari Thailand. Sepanjang 2025, pendapatan ekspor durian Vietnam diperkirakan mendekati 4 miliar dolar AS, nilai yang melonjak meski volumenya tidak sebesar Thailand, menandakan Vietnam berhasil menjual dengan harga premium yang lebih baik.
Bagi pedagang dan UMKM di Indonesia, pesan dari tren ini sederhana namun tegas, pasar terbesar untuk durian dunia kini benar-benar terbuka tanpa perantara, tapi pintu itu hanya akan tetap terbuka bagi yang mampu memenuhi standar mutu ketat China, seperti sertifikasi kebun, fasilitas pengemasan, hingga jaminan bebas residu kimia.
Ketika Eksportir Top Dunia Berubah Jadi Pembeli
Cerita LNG Malaysia bergerak ke arah yang nyaris berlawanan dengan narasi durian dan justru di situlah letak kemenarikannya bagi siapa pun yang mengikuti rantai pasok energi ASEAN.
Malaysia selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu eksportir gas alam cair terbesar dunia, dengan kompleks pencairan raksasa di Bintulu, Sarawak. Fasilitas itu mengoperasikan sembilan train pencairan dengan kapasitas total sekitar 29,3 juta ton per tahun, menjadikannya salah satu hub ekspor LNG terbesar di Asia. Namun permintaan domestik kini tumbuh lebih cepat dari pasokan dalam negeri yang bisa diimbangi.
Pergeseran cepat ke gas mendorong pangsa gas dalam produksi listrik Malaysia naik menjadi 42,6% pada April (tertinggi sejak Oktober 2019) sementara pangsa batu bara turun dari 62,2% menjadi 51,2% dibanding setahun sebelumnya. Pendorong utamanya bukan rumah tangga biasa, melainkan pusat data yang menjamur di Malaysia. Permintaan listrik diperkirakan tumbuh sekitar 4% per tahun ke depan, sebagian besar didorong oleh pusat data yang tengah dibangun di berbagai tahap konstruksi.
Untuk menutup celah itu, Petronas mengambil langkah yang dulu tak terbayangkan bagi negara eksportir gas papan atas, mengunci pasokan impor jangka panjang. Pada Agustus 2025, Petronas menandatangani kesepakatan untuk membeli sekitar US$43,4 miliar LNG asal Amerika Serikat dalam lima tahun ke depan. kesepakatan ini bahkan bersinggungan dengan negosiasi tarif dagang Malaysia dengan pemerintahan Trump. Kesepakatan itu bagian dari paket lebih besar. total nilainya mencapai US$150 miliar yang mencakup pembelian semikonduktor AS, peralatan dirgantara, dan perangkat pusat data, ditambah komitmen investasi lintas batas senilai US$70 miliar. sebagai imbalannya, AS menurunkan tarif yang diusulkan untuk barang Malaysia dari 25% menjadi 19%.
Pergeseran posisi ini diproyeksikan akan terus berlanjut. Analis dari Shell memperkirakan Malaysia mengikuti jalur dari eksportir menjadi importir hingga 2040, berkontribusi sekitar 50 juta ton per tahun terhadap permintaan global baru dan Malaysia berpotensi menjadi importir LNG bersih pada 2035. Namun di tengah pivot ini, Petronas tetap mempertahankan bisnis ekspornya secara cerdik. Malaysia justru meningkatkan ekspor LNG sebesar 14,6% per tahun menjadi 12,81 juta ton pada periode berjalan. strategi yang menurut analis ICIS Alex Siow masuk akal karena setelah 2028 dunia diperkirakan masuk era kelebihan pasokan LNG, sehingga lebih menguntungkan bagi Petronas mempertahankan kontrak ekspor jangka panjang sembari membeli LNG spot yang jauh lebih murah untuk kebutuhan domestik.
Petronas juga baru saja memperkuat armada angkutnya. Pada Mei 2026, Petronas LNG menandatangani kontrak pajak 20 tahun dengan MISC untuk lima kapal pengangkut LNG baru berkapasitas besar, yang akan dibangun di Shanghai dan mulai beroperasi antara 2029-2030.
Siapa yang Diuntungkan dari Pergeseran Ini ?
Dua cerita ini (durian Indonesia yang baru menemukan jalan langsung ke China, dan LNG Malaysia yang berbalik arah dari eksportir menjadi pembeli strategis) sebenarnya menunjukkan pola yang sama di rantai pasok ASEAN tahun ini, kawasan ini tidak lagi pasif menerima struktur dagang lama. Indonesia memotong perantara untuk merebut margin yang dulu hilang ke negara tetangga. Malaysia mengunci kontrak jangka panjang agar tetap punya kendali harga di tengah transisi yang tak terelakkan, alih-alih terombang-ambing pasar.
Bagi eksportir dan pedagang regional, pelajarannya bukan sekadar soal komoditas mana yang sedang naik daun, melainkan soal kecepatan beradaptasi terhadap perubahan jalur dan struktur pasar. siapa yang bergerak duluan untuk membangun akses langsung, sertifikasi, atau kontrak jangka panjang, kemungkinan besar akan menjadi pihak yang menentukan harga, bukan sekadar mengikutinya.



