Namanya bukan nama yang menggelegar seperti petir. Perawakannya tidak seperti raksasa mitologi. Wajahnya ramah, murah senyum, seperti pedagang biasa yang Anda temui di pasar pagi. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan kekuatan yang bahkan mampu menyaingi Hercules (sosok yang disegani seluruh Jakarta)
Akar yang Tertanam Dalam
Lahir di Kebon Pala, jantung Tanah Abang, Ucu Kambing tumbuh dalam aroma sop kambing yang dijual orang tuanya di kawasan Menteng. (Asal Julukan Kambing). pedagang kambing yang jujur dan pekerja keras. Sebuah ironi yang indah, seorang pria yang dijuluki dengan hewan yang lembut, namun menyimpan kekuatan seorang jawara sejati.
Sejak usia 14 tahun, Ucu telah mengenal dunia perkelahian jalanan. Namun berbeda dengan kebanyakan berandal yang mencari sensasi, Ucu belajar silat dari Engkong Sabeni, salah satu legenda Betawi. Ia bahkan sempat menjadi santri di Pesantren Tebu Ireng dan Gontor, meskipun tidak hingga rampung. Kombinasi antara spiritualitas Islam dan ketangkasan bela diri membentuk karakternya yang unik: tegas namun bijaksana, keras namun tidak kejam.
"Saya bukanlah jawara. Saya hanya pembela yang kebetulan tahu cara melawan."
Ucu sendiri menolak disebut jawara atau jagoan.
Namun pengakuan rendah hati ini justru menunjukkan kedewasaan jiwa, sesuatu yang langka di dunia yang penuh arogansi.
Ketika Badai Datang dari Timur
Tahun 1990-an adalah masa ketika Jakarta masih menyimpan sisi gelapnya yang nyata. Tanah Abang, sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar Asia Tenggara, menjadi incaran banyak kelompok yang ingin mengeruk kekayaan dengan cara instan. Di sinilah Rosario de Marshall, atau lebih dikenal sebagai Hercules, masuk dengan kelompoknya yang berasal dari Timor Timur.
Hercules bukan sembarang preman. Ia datang dengan backing militer yang kuat, koneksi politik yang dalam, dan reputasi sebagai sosok yang tak tersentuh.
Wilayah Bongkaran di Tanah Abang menjadi benteng pertahanannya. Di sana, kelompoknya diyakini mengelola perjudian, mengatur jasa keamanan untuk pedagang kaki lima, dan memungut setoran dengan yang angka yang fantastis.
Awalnya, Ucu Kambing memilih diam. Baginya, selama pendatang tidak mengganggu ketenangan warga lokal, tidak ada alasan untuk konflik. Ia bahkan mendirikan Ikatan Keluarga Besar Tanah Abang (IKBT) pada 1993 sebagai wadah untuk melindungi masyarakat Betawi dan pedagang lokal.
Namun kesabaran punya batas. Ketika kelompok Hercules mulai melampaui wilayahnya, ketika pemerasan semakin brutal, ketika bisikan tentang rencana pembakaran masjid mulai terdengar, api amarah masyarakat Betawi pun tersulut.
Pertarungan yang Mengubah Sejarah
Tahun 1996 menjadi titik balik. Bentrokan antara kelompok Hercules dan pasukan Betawi pimpinan Ucu Kambing pecah, dan menurut catatan BBC, ini adalah pertarungan jalanan paling brutal dan keras yang pernah terjadi di Jakarta. Bukan sekadar tawuran biasa, tapi perang teritorial yang melibatkan ratusan orang, dengan nyawa sebagai taruhannya.
Anak sulung Ucu, Chato Badra Mandrawata, mengenang bahwa ayahnya bukan petarung satu lawan satu. ia adalah petarung satu lawan satu kampung. Ketika bertempur, Ucu tidak mengenal kompromi. Ia bahkan pernah membuat personel Brimob terkapar. Julukan "Orang Gila"melekat padanya bukan tanpa alasan, caranya membabat musuh benar-benar tiada tanding.
Dalam pertempuran itu, empat anak buah Hercules tewas. Hercules sendiri harus mundur dan meminta perlindungan Abraham Lunggana alias Haji Lulung. ironisnya, Dia adalah seorang jawara Betawi yang dianggap pengkhianat karena berpihak pada Hercules. Kelompok Betawi bahkan mengejar Lulung, memaksanya mengungsi demi melindungi Hercules yang kalah telak.
Dengan kemenangan itu, takhta Tanah Abang berpindah tangan. Ucu Kambing menjadi penguasa baru. namun dengan gaya yang berbeda. Ia tidak memeras. Ia membina.
katanya dengan tegas. "Preman yang ditemukan akan dipanggil untuk pembinaan, bukan dimusuhi."
Filosofi yang sederhana, namun revolusioner.
Penjaga dalam Badai
Peran Ucu Kambing tidak berhenti di kemenangan atas Hercules. Ketika kerusuhan Mei 1998 mengguncang Jakarta, ketika penjarahan dan pembakaran terjadi di mana-mana, Tanah Abang tetap aman. Kelompok IKBT di bawah komando Ucu menjaga setiap akses masuk, membentuk benteng manusia yang tidak bisa ditembus. Pasar Tanah Abang, yang mestinya menjadi incaran pertama perusuh, tidak tersentuh.
"Di mana-mana terjadi kerusuhan, cuma Alhamdulillah di Tanah Abang tidak. Kita jaga benteng bersama anak-anak." kenangnya kemudian dengan nada datar, seolah menjaga seluruh kawasan perdagangan sendirian adalah hal biasa.
Bahkan ketika pasukan Berani Mati hendak datang ke Jakarta menjelang pelengseran Presiden Abdurrahman Wahid di tahun 2001, Ucu berani menghadang. Ia menjamin bahwa Tanah Abang akan bebas dari premanisme. Jaminan yang ia tepati hingga akhir hayatnya.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Ucu menjadi penengah konflik antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan pedagang kaki lima Tanah Abang. Di tengah ketegangan politik yang memanas, Ucu hadir dengan kebijaksanaan seorang sesepuh. menenangkan kedua belah pihak, mencari solusi, bukan konfrontasi.
Rekonsiliasi dengan Musuh
Yang lebih luar biasa dari kemenangan Ucu adalah apa yang terjadi setelahnya. Alih-alih membiarkan kebencian berkembang, Ucu dan Hercules justru menjadi sahabat. Musuh bebuyutan di masa lalu, kini saling menghargai satu sama lain. Hercules bahkan mengakui kekuatan dan kebijaksanaan Ucu dengan hormat.
Ini bukan sekadar rekonsiliasi biasa. Ini adalah pelajaran tentang kebesaran jiwa, bahwa kemenangan sejati bukan tentang menghancurkan musuh, tapi tentang mengubah musuh menjadi kawan. Filosofi yang sangat Betawi, sangat Indonesia, dan sangat manusiawi.
Kepergian yang Sunyi
Pada 2 Januari 2024, di usia 76 tahun, Muhammad Yusuf Muhi menghembuskan napas terakhirnya setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit paru-paru. Chato, anaknya, menyayangkan bahwa di akhir hayat sang ayah, tidak ada tokoh besar yang datang menjenguk. "Bapak sebagai orang yang melindungi masyarakat, tokoh sesepuh di mana-mana dia mau Jakarta aman, semua suku diterima, dan juga beliau tanpa pamrih menolong masyarakat," kata Chato dengan nada kecewa.
Namun rakyat tidak melupakan. Pemakamannya di TPU Karet Bivak dihadiri Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat, Dhany Sukma, yang mengenang Ucu sebagai tokoh penjaga budaya Betawi yang berkontribusi besar untuk Tanah Abang.
"Kemajuan di Tanah Abang tidak lepas dari andil beliau. Budaya yang berkembang, aktivitas yang berkembang, suasana yang kondusif, ada kontribusi beliau." ujar Dhany.
Warisan yang Abadi
Kini, ketika Tanah Abang terus bergerak maju sebagai pusat ekonomi, ketika gedung-gedung pencakar langit tumbuh di sekeliling pasar tradisional, nama Muhammad Yusuf Muhi mungkin mulai dilupakan oleh generasi baru. Namun bagi mereka yang pernah merasakan langsung masa-masa kelam, bagi para pedagang yang pernah dipalak tanpa ampun sebelum kedatangan Ucu, bagi warga Betawi yang merasa aman di tanah leluhurnya sendiri, Ucu Kambing adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Ia bukan raja. Ia bukan politisi. Ia bahkan bukan orang kaya. Ia hanya seorang pedagang kambing yang kebetulan tahu cara melawan ketidakadilan dan memilih untuk bertindak ketika orang lain memilih diam.
Dalam sejarah Jakarta yang penuh warna, nama-nama besar sering kali mencuri perhatian. Namun, pahlawan sejati adalah mereka yang bekerja dalam kesunyian, melindungi tanpa pamrih, berjuang tanpa sorotan, dan pergi tanpa gemuruh.
Muhammad Yusuf Muhi, sang Panglima Betawi yang terlupakan, adalah salah satunya.
Selamat jalan, Bang Ucu. Jakarta selalu mengingat



