"Tiap BUMN mengalokasikan sebagian laba mereka untuk riset ya, inovasi. Ini bagus ya, usul. Masalahnya, BUMN ini ada labanya nggak? Sekarang mulai ada? Terima kasih Danantara, ya, terima kasih."
Respons itu mengandung sesuatu yang jarang hadir dalam wacana kebijakan nasional, kejujuran yang ironis. Negara dengan lebih dari seribu BUMN itu baru saja mulai mencatatkan laba yang berarti. Dan dari kursi paling berkuasa di Republik ini, ide tentang BUMN sebagai mesin riset nasional disambut bukan dengan keengganan, melainkan dengan tanda tanya yang pragmatis dan pertanyaan tentang kemampuan, bukan tentang arah.
Itu bukan penolakan. Itu undangan untuk berpikir lebih serius.
Laba yang Diam-diam Menumpuk
Sebelum membicarakan riset, kita perlu membaca angkanya dengan teliti.
Kementerian BUMN mencatat dividen sebesar Rp85,5 triliun pada 2024, naik dibandingkan tahun sebelumnya. BRI menjadi kontributor terbesar dengan angka Rp25,7 triliun, diikuti Bank Mandiri, Mind ID, Pertamina, dan Telkom Indonesia. Dan itu belum selesai, untuk target dividen tahun 2025, pemerintah dan DPR RI telah menetapkan angka Rp90 triliun.
Di balik angka-angka itu, ada pertanyaan struktural yang layak ditanyakan dengan keras, apakah seluruh laba tersebut seharusnya hanya mengalir sebagai setoran ke kas negara dan berakhir dalam pos pengeluaran yang beragam, atau sebagian darinya bisa diputar kembali ke dalam siklus pengetahuan yang menghasilkan day...
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


