"Tiap BUMN mengalokasikan sebagian laba mereka untuk riset ya, inovasi. Ini bagus ya, usul. Masalahnya, BUMN ini ada labanya nggak? Sekarang mulai ada? Terima kasih Danantara, ya, terima kasih."
Respons itu mengandung sesuatu yang jarang hadir dalam wacana kebijakan nasional, kejujuran yang ironis. Negara dengan lebih dari seribu BUMN itu baru saja mulai mencatatkan laba yang berarti. Dan dari kursi paling berkuasa di Republik ini, ide tentang BUMN sebagai mesin riset nasional disambut bukan dengan keengganan, melainkan dengan tanda tanya yang pragmatis dan pertanyaan tentang kemampuan, bukan tentang arah.
Itu bukan penolakan. Itu undangan untuk berpikir lebih serius.
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


