Memuat Data Pasar...
Ekonomi & PasarPrime29 Juni 2026 10 mnt baca

Menimbang BUMN sebagai Tulang Punggung Riset Nasional

Pada hari Minggu, 28 Juni 2026, di tengah gemuruh 2.600 rektor, dekan, dan dosen yang memadati Jakarta International Convention Center, Presiden Prabowo Subianto membacakan sebuah pertanyaan dari lembar kertas yang diterimanya dari para guru besar. Pertanyaan itu sederhana, namun menyimpan bobot yang dalam, bisakah BUMN mengalokasikan sebagian labanya untuk mendanai riset dan inovasi?

Rama Wijaya
Menimbang BUMN sebagai Tulang Punggung Riset Nasional

Photo by Neilstha firman

"Tiap BUMN mengalokasikan sebagian laba mereka untuk riset ya, inovasi. Ini bagus ya, usul. Masalahnya, BUMN ini ada labanya nggak? Sekarang mulai ada? Terima kasih Danantara, ya, terima kasih."

Respons itu mengandung sesuatu yang jarang hadir dalam wacana kebijakan nasional, kejujuran yang ironis. Negara dengan lebih dari seribu BUMN itu baru saja mulai mencatatkan laba yang berarti. Dan dari kursi paling berkuasa di Republik ini, ide tentang BUMN sebagai mesin riset nasional disambut bukan dengan keengganan, melainkan dengan tanda tanya yang pragmatis dan pertanyaan tentang kemampuan, bukan tentang arah.

Itu bukan penolakan. Itu undangan untuk berpikir lebih serius.

Laba yang Diam-diam Menumpuk

Sebelum membicarakan riset, kita perlu membaca angkanya dengan teliti.

Kementerian BUMN mencatat dividen sebesar Rp85,5 triliun pada 2024, naik dibandingkan tahun sebelumnya. BRI menjadi kontributor terbesar dengan angka Rp25,7 triliun, diikuti Bank Mandiri, Mind ID, Pertamina, dan Telkom Indonesia. Dan itu belum selesai, untuk target dividen tahun 2025, pemerintah dan DPR RI telah menetapkan angka Rp90 triliun.

Di balik angka-angka itu, ada pertanyaan struktural yang layak ditanyakan dengan keras, apakah seluruh laba tersebut seharusnya hanya mengalir sebagai setoran ke kas negara dan berakhir dalam pos pengeluaran yang beragam, atau sebagian darinya bisa diputar kembali ke dalam siklus pengetahuan yang menghasilkan day...

Konten Premium

Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.

Langganan Sekarang
art.share.title

Ruang Diskusi

0 Komentar

Bacaan terkait

Dari kategori Ekonomi & Pasar
Reformasi Agraria Presiden Prabowo
Ekonomi & Pasar

Reformasi Agraria Presiden Prabowo

Sebuah dekrit yang menggemparkan. Presiden Prabowo Subianto mencanangkan kebijakan cukup radikal, tanah hak milik yang terlantar akan kembali ke pangkuan negara. Di balik gestur tegas ini, tersimpan narasi besar tentang keadilan, produktivitas, dan masa depan Indonesia.

kristyan4 mnt baca
Krisis Energi vs Investasi Hijau
Ekonomi & Pasar

Krisis Energi vs Investasi Hijau

Pilihan Kebijakan untuk Negara-negara ASEAN, dimana Trade-off jangka pendek energi fosil dan jangka panjang transisi hijau kini bukan lagi perdebatan akademis. Setelah harga minyak dunia menembus US$100 per barel akibat eskalasi di Selat Hormuz, kawasan ini dipaksa menjawab satu pertanyaan dalam waktu nyata, bertahan dengan subsidi, atau berinvestasi pada kemandirian.

Arsyanendra9 mnt baca
#energy#Greenenergy