Di Lebuh Kimberley, salah satu ruas jalan tersempit di jantung George Town, Penang, sebuah rumah toko peninggalan awal abad ke-20 kini menjadi ruang kerja bersama bagi perajin batik kontemporer dan pengembang aplikasi lokal. Dinding kayu jati yang dulu menopang gudang rempah kini menopang rak buku dan meja kolaborasi. Ini bukan kebetulan estetis. Ini adalah hasil dari kebijakan repopulasi yang sengaja mendorong rumah toko warisan untuk dihuni kembali oleh ekonomi produktif, bukan sekadar dipajang sebagai latar foto wisatawan.
Namun tidak jauh dari sana, di tepi laut George Town yang sama, badan pembangunan negara bagian tengah membuka tender untuk lahan seluas lebih dari lima hektare tepat di dalam zona warisan dunia UNESCO, sebuah keputusan yang oleh sebagian warga dianggap sebagai perampasan pemandangan pesisir yang seharusnya menjadi milik publik. Dua kejadian ini, berjarak beberapa kilometer dan beberapa bulan saja, merangkum dilema yang kini dihadapi hampir setiap kota bersejarah di Asia Tenggara. bagaimana menjaga warisan tetap hidup tanpa membiarkannya tergerus oleh dorongan pembangunan yang sama-sama sah secara ekonomi.
Sebuah Ketegangan yang Bukan Baru, tapi Kini Memuncak
Ketegangan antara pelestarian dan pembangunan bukan fenomena baru di kawasan ini. Sejak dekade 1980-an, ketika Thailand mempercepat pembangunan Taman Sejarah Sukhothai untuk menyambut lonjakan wisatawan mancanegara, para akademisi lokal sudah memperingatk...
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


