Pertengahan April tahun ini, ketika Brent sempat menyentuh US$100 per barel dan Indonesian Crude Price merangkak ke US$117, sesuatu yang jarang terjadi berlangsung serentak di delapan ibu kota ASEAN. setiap kementerian keuangan, pada saat yang nyaris bersamaan, menghitung ulang asumsi anggaran energinya. Ini bukan latihan tahunan biasa. Ini adalah stress test riil terhadap arsitektur fiskal yang dibangun selama satu dekade terakhir dan hasilnya mengungkap jurang yang semakin lebar antara negara yang sudah memulai transisi dan negara yang masih menunda.
Vietnam menjadi contoh paling dramatis. Harga solar di Vietnam melonjak 105 persen menjadi sekitar 39.660 dong per liter, sementara bensin RON 95 naik hampir 68 persen, memicu antrean panjang di stasiun pengisian dan kekhawatiran kelangkaan energi yang menjadi pemandangan sehari-hari. Filipina merespons dengan caranya sendiri, mengumumkan status darurat energi nasional, membatasi distribusi BBM, dan mengaktifkan subsidi darurat untuk menstabilkan pasar domestik. Indonesia dan Malaysia, sementara itu, memilih jalur ketiga, yaitu menggali lebih dalam ke kantong subsidi yang sudah menggunung.
Inilah inti persoalan yang ingin kami bedah dalam analisis ini, bukan sekadar mencatat siapa yang panik dan siapa yang tenang, tapi memahami mengapa pilihan kebijakan setiap negara mencerminkan filosofi fiskal yang sangat berbeda, dan ke mana arah itu membawa kawasan ini dalam lima tahun mendatang.
Sebuah ...
Konten Premium
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan PRIME. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


