Ada malam-malam ketika Chris Gardner memeluk putranya yang berusia lima tahun di sudut toilet stasiun kereta bawah tanah San Francisco. Bau urine yang menusuk hidung ditambah dingin lantai keramik menembus tulang.
Di luar, kota berkilauan dengan lampu neon yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik. kehidupan yang sepertinya tak akan pernah menjadi miliknya.
Namun dalam kegelapan itu, Gardner membisikkan sesuatu kepada Christopher Jr., putranya,
"Kita akan baik-baik saja, Nak. Ayah berjanji."
Janji itu bukan sekadar penghiburan kosong seorang ayah yang putus asa. Itu adalah manifesto. Sebuah deklarasi perang terhadap takdir yang kejam.
DARI BANGKU KULIAH KE BANGKU TAMAN
Tahun 1981. Gardner bukanlah pria tanpa pendidikan atau tanpa ambisi. Ia memiliki impian besar menjadi broker saham Wall Street. Namun hidup memiliki skenario yang berbeda. Perceraiannya meninggalkan luka finansial yang dalam. Tagihan menumpuk. Rumah yang ia sewa hilang. Dan dalam sekejap, seorang pria dengan jas lusuh dan tas kulit compang-camping itu harus memilih, antara menyerah pada keadaan, atau bertarung dengan segalanya.
Ia memilih bertarung.
Yang membuat kisah Gardner luar biasa bukan sekadar fakta bahwa ia tunawisma, tetapi bahwa ia tunawisma sambil menjalani program magang yang tidak dibayar di Dean Witter Reynolds, salah satu perusahaan sekuritas paling bergengsi di Amerika. Bayangkan, pagi hari ia harus tampil rapi, berbicara dengan percaya diri tentang portofolio investasi jutaan dolar, sementara malam sebelumnya ia tidur di lantai shelter atau mengantre di tempat penampungan bersama ratusan jiwa lain yang kehilangan harapan.
SENI MENYEMBUNYIKAN LUKA
Rekan-rekannya di kantor tidak pernah tahu. Mereka melihat pria ambisius yang selalu datang lebih awal, pulang lebih larut. Mereka tidak tahu bahwa Gardner bangun jam 4 pagi untuk mengantre di shelter, berlari ke kantor dengan kemeja yang dicucinya di wastafel toilet umum, lalu bekerja hingga larut malam karena kantor yang hangat itu adalah satu-satunya tempat aman sebelum ia harus kembali ke jalanan.
Ini bukan hanya tentang ketahanan fisik. Ini tentang bagaimana seseorang menjaga api harapan tetap menyala ketika seluruh dunia berusaha memadamkannya. Setiap kali Gardner melihat mata putranya, mata yang penuh kepercayaan, mata yang percaya bahwa ayahnya adalah superhero, ia selalu menemukan alasan baru untuk tidak menyerah.
MIMPI YANG TERLALU MAHAL UNTUK DITINGGALKAN
Ada momen ketika Gardner hampir patah semangat.
Suatu malam, setelah ditolak dari shelter karena terlambat datang, ia dan Christopher Jr. terpaksa mengunci diri di toilet umum stasiun BART. Ia menahan pintu dengan kakinya sepanjang malam, berharap tidak ada yang mencoba membuka dari luar. Putranya tertidur di pangkuannya. Dan di tengah kesunyian yang mencekam itu, Gardner menangis dalam diam, agar anaknya tidak terbangun.
Namun esok harinya, ia kembali ke kantor. Tersenyum. Bekerja dan Bermimpi.
Karena Gardner memahami satu kebenaran fundamental, kemiskinan adalah kondisi sementara, tetapi menyerah adalah keputusan permanen.
KETIKA TAKDIR AKHIRNYA BERLUTUT
Setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian, Gardner berhasil menyelesaikan program magangnya. Dari 20 peserta, hanya satu yang akan dipilih menjadi karyawan tetap. Ketika namanya dipanggil, ia tidak bersorak. Ia tidak melompat kegirangan. Ia hanya tersenyum.
senyum lelah seorang pejuang yang akhirnya melihat garis finish.
Namun ini baru permulaan. Pada 1987, Gardner mendirikan perusahaan brokernya sendiri, Gardner Rich & Co. Perusahaan yang dimulai dari nol itu tumbuh menjadi kekuatan finansial bernilai jutaan dolar. Pria yang pernah tidur di toilet umum kini memiliki kantor dengan pemandangan San Francisco Bay.
WARISAN YANG LEBIH BERHARGA DARI KEKAYAAN
Hari ini, kisah Chris Gardner bukan lagi sekadar memoir pribadi. Filmnya, "The Pursuit of Happyness", telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Namun yang lebih penting dari kesuksesan finansialnya adalah pesan yang ia tinggalkan bahwa tidak ada keadaan yang terlalu gelap untuk diubah, tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk dikejar, dan tidak ada alasan yang cukup kuat untuk berhenti percaya.
Gardner sering berkata dalam wawancara-wawancaranya.
"Jangan pernah biarkan seseorang memberitahumu bahwa kamu tidak bisa melakukan sesuatu. Bahkan aku."
Itu bukan motivasi klise. Itu adalah kesaksian dari seorang pria yang pernah memiliki segalanya dari harapan, mimpi, dan ambisi, kecuali tempat untuk tidur.
Dan ia membuktikan bahwa yang terakhir itu tidak sepenting yang pertama.
..
..
Malam ini, di suatu tempat di dunia, ada seseorang yang tidur di bangku taman, di stasiun kereta, atau di sudut jalan yang gelap. Mungkin mereka membawa mimpi yang sama besarnya dengan Chris Gardner. Mungkin mereka juga berbisik pada diri sendiri,
"Aku akan baik-baik saja."
Dan mungkin, suatu hari nanti, dunia akan mendengar nama mereka, karena mereka memilih untuk terus berdiri.
Karena itulah yang dilakukan para pemenang sejati.
Mereka tidak dilahirkan di garis finish.
Mereka merangkak menuju garis itu. terluka, lelah, dan hancur tetapi dengan kepala tegak dan mata yang menyala.
Persis seperti Chris Gardner.
..
"The future was uncertain, absolutely, and there were many hurdles, twists, and turns to come, but as long as I kept moving forward, one foot in front of other, the voices of fear and shame, the messages from those who wanted me to believe that I wasn't good enough, would be stilled."
-Chris Gardner-



