Ada satu paradoks yang jarang diucapkan secara terbuka di ruang rapat redaksi mana pun di Jakarta, Singapura, atau Kuala Lumpur. dunia tidak pernah memiliki lebih banyak informasi dibanding hari ini, namun semakin sedikit orang yang benar-benar membacanya. Bukan karena mereka tidak peduli. Justru karena mereka dibanjiri oleh notifikasi, oleh ringkasan algoritmik, oleh potongan klip 30 detik yang berebut perhatian sebelum jari sempat berhenti menggulir. Di tengah kebisingan itu, ada kelompok kecil yang berperilaku berlawanan arus. mereka memperlambat, memilih, dan pada akhirnya, membayar. Mereka adalah pengambil keputusan (eksekutif, pejabat, investor, akademisi senior) dan memahami mengapa mereka bertahan pada satu platform tertentu adalah pertanyaan strategis yang jauh lebih dalam daripada sekadar soal algoritma distribusi.
Migrasi Besar, dan Mengapa Asia Berubah Paling Cepat
Riset tahunan Reuters Institute for the Study of Journalism, yang dirilis pertengahan Juni 2026 berdasarkan hampir 100.000 wawancara di 48 negara, mencatat sebuah titik balik struktural, untuk pertama kalinya, media sosial dan platform video melampaui seluruh kanal lain sebagai sumber berita utama secara global, digunakan oleh 54 persen audiens. mengungguli televisi (52 persen), situs dan aplikasi berita (51 persen), radio (21 persen), dan media cetak (16 persen). Ini bukan sekadar pergeseran preferensi konsumsi, ini adalah keruntuhan otoritas distribusi yang selam...
Konten APEX Eksklusif
Artikel ini eksklusif untuk pelanggan APEX. Tingkatkan langganan Anda sekarang untuk membuka akses ke seluruh laporan, esai mendalam, dan berita eksklusif kami tanpa batas.
Langganan Sekarang


